Semarak Perayaan Budaya Pop di Indonesia Comic Con 2017

ICC- (1)

Indonesia Comic Con 2017 yang diselenggarakan selama dua hari, Sabtu (28/10) dan Minggu (29/10) berlangsung semarak. Acara pop culture yang menjadi wadah bertemunya penggemar games, komik, dan mainan ini terselenggara di Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, Jakarta.

Banyak yang menjadi highlight di penyelenggaraan tahun ini, mereka di antaranya Jason David Frank, Green Power Ranger alias Tommy dan Daniel Logan yang memerankan Young Boba Fett di Star Wars Episode II: Attack of The Clones.

Selain Jason dan Daniel Logan juga terdapat jajaran komik artis di antaranya Yanick Paquette, Bernard Chang, Is Yuniarto Ario Anindito, serta cosplayer internasional antara lain Pugoffka, Angie, dan Pion Kim.

Ilustrator dan komikus asal Surabaya, Is Yuniarto berpendapat kalau Indonesia Comic Con tahun ini berlangsung lebih ramai dan lebih asik. Dia yang sedang sibuk mengerjakan serial komik Grand Legend Ramayana dan Garudayana ini menganggap kalau event ini merupakan ajang yang tepat untuk para komikus. Karena di ICC event-event pop yang memang mengangkat komik jadi identitas utama.

“Asik sih, karena di tahun lalu juga sempat ngalamin di Indonesia Comic Con dan di tahun ini terutama deretan artisnya jauh lebih  ramai dan lebih asik, juga banyak komikus-komikus dari luar negeri juga yang terlibat,” kata Is Yuniarto.

“Seru banget, event-event pop itu banyak, tetapi yang beneran pake tag komik itu mungkin baru Indonesia Comic Con, jadi istilahnya itu komik jadi identitas utama,” kata komikus yang juga merupakan kreator karakter Gatotkaca di games Mobile Legends tersebut di Indonesia Comic Con 2017 hari pertama.

Toy Hunting

ICC-9

Dari sekian padatnya agenda Indonesia Comic Con 2017, ada juga yang menarik, yaitu banyaknya booth yang menjual beragam mainan. Banyak juga yang menawarkan mainan dengan harga yang relatif murah pastinya.

Salah satu pengunjung yang meramaikan Indonesia Comic Con 2017 mengaku sengaja datang untuk berburu mainan. “Lucu-lucu aja mainannya, seru juga berburu mainan murah gini. Kualitasnya juga masih bagus, tergantung milihnya aja sih,” kata Adam mahasiswa semester 5 di salah satu universitas swasta di Jakarta.

Selain berburu mainan, acara ini juga menghadirkan food area. Comic Food Street menjual beragam makanan antara lain sosis panggang, burger, donat, minuman, dan lainnya juga nggak lepas dari antrean para pengunjung.

Sejak pagi hari, Sabtu (28/10) para pengunjung termasuk cosplayer yang ada di Indonesia Comic Con terus mendatangi area Hall A dan B JCC, Senayan, Jakarta.

Antrean cosplayer terlihat mengular sedari pukul 10 pagi. Wajah-wajah segar menanti teman ataupun bertemu dengan orang baru bikin pengalaman di Indonesia Comic Con semakin seru. Kapan lagi karakter hero beda alam seperti contoh, Batman bertemu dengan Captain Jack Sparrow, Spider-Man dengan Harley Quinn? Pokoknya seru banget deh.

ICC-3.jpg

Sneaker Zone

Bagi penyuka sneakers, di ICC 2017 juga ada Sneaker Zone yaitu tempat yang menjual bermacam sepatu branded. Sneaker Zone merupakan zona baru di ICC tahun ini. Karena melihat antusiasme generasi milenial yang suka memakai apalagi mengoleksi sneakers, sepertinya jadi pertimbangan untuk menghadirkan booth-booth yang memajang banyak collected item untuk dijual.

The Walking Dead Rayakan Episode Ke-100 di Asia

Di Indonesia Comic Con tahun ini menghadirkan The Walking Dead: Escape Rooms di JCC, Senayan, Jakarta. Penggemar mendapati pengalaman dirinya terkunci di sebuah ruangan. Dengan petunjuk dari rangkaian dan teka-teki misterius yang tersembunyi di selluruh ruangan bermain, diberikan satu misi untuk melarikan diri. Pemain harus bekerja sama untuk menghindari ruang bertema dalam jangka waktu yang terbatas. Bagi Indonesia, ruangan ini memiliki 3 season prison dan season 4 Rick dan timnya bersembunyi dari para zombies.

James Boey, selaku General Manager Reed Panorama Exhibitions mengatakan, “Tiap tahun ribuan penggemar budaya pop di Indonesia menantikan acara ini. Tahun ini kami menghadirkan Jason David Frank (Green Ranger) dan Daniel Logan (Young Boba Fett). Beragam alasan mereka par pecinta hadir ke acara ini mulai dari menikmati suguhan kreasi anime, video game, cosplay, manga maupun karakter imajiner lainnya yang mampu memberikan pengalaman budaya pop yang sesungguhnya. Di Indonesia Comic Con 2017 kehadiran artis papan atas dunia dari film Star Wars dan Power Rangers membuktikan bahwa Indonesia Comic Con sebuah perhelatan budaya pop yang patut diperhitungkan”.

Indonesia Comic Con mendapat dukungan dari Bank Mandiri selaku sponsor utama yang akan menghadirkan “Kartu Prabayar e-money edisi premium Justice League”. Penerbitan kartu e-money edisi premium ini diharapkan dapat mengkselerasi pencapaian program Gerakan Nasional Non Tunai (GNNT). Justice League merupakan film dari Warner Bros. Pictures yang ditunggu penayangannya. Sekumpulan karakter superhero DC Comics yang ada di film Justice League bakalan muncul di kartu e-money dari Bank Mandiri.

“Kami ingin mengundang para penggemar karakter superhero dari DC Comics untuk mengoleksi seluruh edisi khusus terbatas tidak hanya tampilannya yang menarik, tetapi kartu ini juga multifungsi dan dapat digunakan sebagai alat pembayaran di lebih 50.000 merchant seperti gerbang tol, Bus Transjakarta, secure parking, dan lain sebagainya,” ujar Thomas Wahyudi SVP Transaction Banking Retail Sales Bank Mandiri.

ReedPOP sebelumnya sudah dikenal sebagai penyelenggara acara budaya pop terbesar di Amerika Serikat, termasuk New York Comic Con (NYCC), yang bahkan kedatangan 200.000 pengunjung di tahun 2016. Di ICC tahun ini juga nggak bakal kalah meriah dengan dihadirkannya 180 tennant pameran dari 8 negara yaitu Amerika, Italia, Hong Kong, Jepang, Singapura, Thailand, Malaysia, dan Indonesia.

Synchronize Festival 2017: Meledak di Hari Ketiga!

Synchronize-

Festival musik multi genre, Synchronize Fest 2017 berlangsung meriah! Synchronize Festival yang memiliki tema “Synchronize Fest, It’s Not Just a Festival, Its a Movement” di tahun ini diselenggarakan selama tiga hari berturut-turut 6, 7, & 8 Oktober 2017 di JIExpo Kemayoran, Jakarta.

Meledak di Hari Ketiga!

Di hari ketiga, Synchonize Fest 2017 yang emang diprediksi bakal pecah jadi kenyataan. Betul aja dari pengumuman tiket early entry sebelum jam 15.00 udah sold out. Apalagi harus liat info terkini Synchronize Fest yang bilang kalau tiket bakalan habis sekiranya pengunjung sudah membludak. Bikin hati dag-dig-dug.

Minggu sore jadi weekend paling manis buat para pecinta musik yang juga suka nongkrong-nongkrong cantik. Di depan gerbang mulai dari tiket box sampai pintu penjagaan udah keliatan tuh muka-muka sumringah yang udah nggak sabar pengen masuk. Ada yang masih nunggu-nunggu-an temen, jajan-jajan kecil, buru-buru jalan dari parkiran ke area tuh rasanya mereka nikmatin banget.

Pengunjung memasuki area pengecekan tiket kemudian masuk lagi ke pintu pengecekan barang, tas dan bawaan lainnya. Semua diatur rapi tanpa ada kendala berarti. Setelah itu pengunjung langsung bisa masuk kemudian melihat hasil mural dan graffiti. Dari para pengunjung festival yang datang, ada beberapa dari mereka yang langsung lari ke stage dan ada juga yang menyempatkan untuk foto-foto.

Langsung melihat ke arah kiri ada stage yang minimalis, Gigs Stage yang sedang dipanasi oleh para pengunjung coba-coba masuk. Ornamen kertas dengan coretan warna warni di dinding ditambah sorot lampu bikin Gigs Stage keliatan makin ciamik.

Beberapa pengunjung berlarian dari arah pintu masuk ke arah District Stage. Bukan main penuhnya lautan manusia yang menyaksikan lantunan musik dari penampil Sisitipsi. Ada beberapa juga yang langsung ikutan nyanyi sambil meliukkan badan mengikuti irama.

Semakin sore, suasana semakin panas aja nih. Para penampil lainnya yang emang udah punya nama macam Kahitna, Clubeighties, dan Danilla bikin pengunjung bingung nih mau nonton yang mana. Akses jalan dari dan menuju stage bisa dibilang nggak terlalu jauh dan petunjuk tempat yang jelas, jadinya mau mampir ke stage lain ya aman-aman aja, nggak nyasar.

Setelah break maghrib, penonton udah siap-siap aja di depan masing-masing stage andalan mereka. Payung Teduh di Dynamic Stage yang berdekatan dengan The Trees and The Wild di Lake Stage, Agrikulture di Forest Stage, Endah N Rhesa di District Stage, dan Teenage Death Star di Gigs Stage.

Dari masing-masing stage punya higlight tersendiri, seperti misalnya The Trees and The Wild dengan penampilan magis mereka menyihir penonton, Payung Teduh dengan penggemar yang masih belum bisa move on sama lagu ‘Akad’, Agrikulture dengan disko di rumah, apalagi harus melipir ke Gigs Stage yang membara membuat Synchronize Fest bersiap meledak di hari terakhirnya.

Nggak cuma sampai di situ, stage lainnya yang sudah diisi oleh penampil yaitu Monkey To Millionare di Lake Stage juga nggak mau kalah seru. Monkey To Millionare bikin kehebohan dengan munculnya Jimmy Multhazam naik ke atas panggung main drum. Kolaborasi macam ini ternyata emang bukan hal yang aneh dalam sebuah festival musik. Malah jadi keseruan tersendiri aja buat pecinta musik kalo ternyata para artis ya memang harus menghibur bikin kolaborasi.

Hari semakin malam, cuaca pun sangat bersahabat dengan terang bulan yang menyinari. Nggak lama dari sesi pertama break, langsung tampil Naif di Dynamic Stage yang kemudian disusul oleh penampil lainnya, Koil. Penggemar berat Koil bersiap maju ke depan Lake Stage. Momen yang pecah saat dua musik saling beradu karena jarak yang lumayan dekat tanpa harus ada pembatas satu sama lainnya. Itulah yang membuat festival musik wajib dateng ini menarik.

Nggak lama melipir dari Dynamic dan Lake Stage, Polka.id sedikit mampir ke Forest Stage yang ternyata ada penampilan dari The Brandals yang keren abis. Dari jauh kedengaran sang vokalis ngebawain lagu David Bowie, Ashes to Ashes.

Synchronize-3

Balik lagi nih ke Lake Stage, ternyata penonton udah nggak sabar buat nonton aksi panggung dari The Upstairs. Band yang pernah merajai di pensi-pensi anak SMA Jabodetabek masih bergairah. Sang vokalis, Jimmy ternyata nggak mau kalah sama generasi millennial, dia nyempetin cukur kumisnya biar keliatan muda. The Upstairs membawakan lagu andalan, Matraman. Lagu ketiga The Upstairs di Lake Stage bikin suasana makin pecah.

Memasuki jam 10 malam, para pengunjung udah keliatan mulai kecapean. Nggak kuat untuk ngikutin, mereka keliatan duduk-duduk nyender di bawah. Berusaha mengumpulkan napas dan tenaga kembali, mencoba gabung ke stage yang jadi bintang utama atau penampil terakhir.

Di District Stage, Stars and Rabbit udah mulai kedengaran suara khas dari Elda. Udah mulai kepanggil deh fans Stars and Rabbit, nggak kebayang gimana penuhnya District Stage yang emang sedari sore dipenuhi oleh pengunjung. Agak sedikit melipir ke Gigs Stage, pengunjung udah memenuhi stage minimalis. Panggung yang seharusnya menjadikan suasana intimate buat aksi panggung legendaris macam Goodnight Electric nggak terelakkan, penuh sepenuh-penuhnya penuh.

Synchronize-5.jpg

“Am I Robot” membuka aksi dari Oomleo dkk. Goodnight Electric bikin penonton keluar masuk Gigs Stage yang emang udah panas banget hawanya. Penonton rela-relain untuk panas-panasan sembari mengambil udara segar saat jeda.

Kelompok Penerbang Roket di Forest Stage menambah “bara api” Synchronize Fest ditambah dengan Seringai, Glenn Fredly di Lake Stage, Slank di Dynamic Stage, kemudian menyusul Diskopantera yang mendapat breaking news dari panitia untuk pindah stage ke District Stage. Diskopantera nggak mau penontonnya pulang duluan, lagu-lagu pilihan yang pastinya berkesan bikin penonton berjoget semalaman.

Paralympic Ceremony

Agak sedikit highlight di hari-hari sebelumnya, di hari pertama, Synchronize Fest melakukan prosesi sederhana penghitungan mundur Asian Para Games dengan memotong tumpeng yang dilakukan oleh Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla, Menko PMK, Puan Maharani, Menpora Imam Nahrawi, dan Ketua Umum INAPGOC, Raja Sapta Oktohari.

Pelaksanaan hitung mundur Asian Para Games 2018 dilakukan di hari pertama Synchronize Fest. “Walaupun anggaran cukup ketat, kami merasa acara hitung ini tetap harus dilaksanakan. Tidak hanya untuk memberitahu masyarakat tentang adanya Asian Para Games, tapi juga untuk memberi dorongan moral pada seluruh selemen yang terlibat dalam persiapan gelaran akbar ini. Meski sederhana, kami juga ingin acara ini punya makna. Makanya, kami memilih tumpengan, karena tumpeng itu sangat Indonesia,” kata Okto.

Dengan anggaran yang ketat itu pula, acara hitung mundur Asian Para Games 2018 menumpang dalam gelaran Synchronize Fest yang diadakan oleh Dyandra Promosindo di JIExpo, 6-8 Oktober. Di Synchronize Fest tahun ini didukung oleh fasilitas yang nyaman untuk para difabel. Seperti contoh ada area khusus untuk penyandang disabillitas bisa menyaksikan konser musik jadi lebih nyaman.

Memang bukan sekadar festival musik biasa, Synchronize Fest juga menghadirkan Meet & Greet, Live Mural dan Graffiti, Movie Area, Workshop, dan Record Market. Hari pertama Synchronize Fest sukses dimeriahkan oleh para penampil antara lain Adrian Yunan, Barasuara, Bottlesmoker, Kimokal, Mocca, Rocket Rockers, SID, Oomleo Berkaraoke.

Presiden Jokowi Hadiri Synchronize Fest 2017

Di hari kedua penyelenggaraan Synchronize Fest nggak kalah serunya dengan hari pertama. Bahkan orang nomor satu Indonesia, Presiden Joko Widodo nggak mau ketinggalan seru-seruan. Presiden Jokowi menghadiri Synchronize Fest 2017 hari kedua, Sabtu (8/10), Kemayoran, Jakarta. Kehadiran Jokowi di Synchronize Fest seketika menyita perhatian para penonton yang ada di District Stage.

Ebiet G. Ade yang pada saat itu sedang tampil langsung mempersembahkan lagu spesial berjudul ‘Berita Untuk Kawan’. Setelah itu, Jokowi yang didampingi oleh Triawan Munaf, Kepala Bekraf dan Ketua Umum INAPGOC, Raja Sapta Oktohari langsung menuju Lake Stage untuk menyaksikan penampilan band metal Indonesia, Deadsquad.

Meskipun gerimis hujan membasahi nggak menghentikan langkah Jokowi nikmatin musik para penampil malam itu antara lain Shaggydog, The Adams, Teddy Adhitya. Setelah itu, Jokowi menyempatkan diri ke booth Bekraf sekaligus membeli kaus di booth merchandise Synchronize Fest 2017.

Banyak dari penonton yang bertegur sapa dan berfoto selfie. Kedatangan Presiden Jokowi merupakan dukungan positif akan konsistensi industri musik dan kreatif Indonesia.

Dari banyak penampil di hari kedua, yaitu ada beberapa highlight yang menyedot perhatian penonton antara lain The Sigit, Under The Big Bright Yellow Sun, Fourtwnty, dan diakhiri dengan meriah oleh OM PMR, Steven and Coconutreez, Diskoria di masing-masing stage.

Synchronize Fest, Festival Wajib Dateng

Synchronize Fest 2017 benar-benar jadi festival yang wajib dateng dan harus ada di tiap tahunnya. Dari sekian ratus musisi dari puluhan band turut memeriahkan festival multi genre Synchronize Fest. Memang benar-benar pestanya pecinta musik Indonesia. Di sini bisa mengikuti setiap aktivitas yang mendukung dan menarik. Synchronize Fest 2017 ramai pengunjung dan sukses, semoga bisa ketemu di tahun berikutnya dengan tema yang lebih keren dan kolaborasi para penampil yang kece! Sukses!

Kemeriahan Casanova 2017 “Let Us Dare”, Special Edition 90th Anniversary of Canisius College

ambience-feature-image

SMA Kolese Kanisius baru aja mengadakan Casanova 2017 di sekolah mereka, Menteng, Jakarta Sabtu (21/1).

Festival yang merupakan puncak dari rangkaian acara Casanova 2017 ini berlangsung meriah!

Casanova singkatan dari Canisius Science, Art, and Language On Festival. Casanova yang diadakan setiap dua tahun sekali ini bertujuan untuk meningkatkan prestasi, apresiasi yang lebih tinggi terhadap bidang dalam bidang non-olahraga, dan relasi antar pelajar SMA se-Jabodetabek.

Tema yang diangkat di event Casanova tahun ini adalah “Let Us Dare” yang berarti berani untuk bermimpi. Casanova 2017 juga sekaligus memeriahkan perayaan 90 tahun Sekolah Kanisius.

Panitia Inti dari Casanova 2017, Kenly Chandra mengatakan kalau event dua tahunan Kanisius ini bisa dibilang paling sukses dihadiri oleh banyak pengunjung. Ada sekitar 1.600 orang yang hadir di Casanova 2017, Sabtu (21/1) lalu.

“Kebetulan event ini pas sama ulang tahun 90 Kanisius. Bisa dibilang paling sukses, paling ramai, paling banyak partisipannya, dari sponsor juga lumayan banyak lebih meriah dari dua tahun yang lalu,” kata Kenly.

Untuk event berikutnya, Kenly berharap angkatan di bawahnya, yakni kelas X bisa meneruskan event Casanova.
Sementara itu, di ulang tahun yang ke-90 dia berharap semoga Kanisius semakin maju, semakin mendidik, menjadi pemimpin yang berkarakter dan berguna bagi masyarakat.

Canisius Music Lounge

ambience-body

Pada Sabtu, (21/1) SMA Kanisius sukses menyelenggarakan Canisius Music Lounge di Casanova 2017. SMA Kanisius yang memiliki venue lumayan besar dengan dua sisi lapangan, yakni lapangan rumput dan basket menampung booth-booth bazaar makanan dan minuman, serta panggung utama tampak megah.

Acara dimulai pukul 14.00 WIB. Cuaca Jakarta yang sejuk saat itu mengundang pengunjung yang kebanyakan remaja merapat ke Casanova. Sejak siang sampai sore hari MC mengumumkan pemenang dari kompetisi yang sebelumnya diadain.

Casanova tahun ini menghadirkan beberapa artis di antaranya Elephant Kind, The Same Old Beat, dan Nidji.

Hujan rintik-rintik menyambut sabtu malam itu. Meskipun begitu, banyak penonton yang ternyata udah enggak sabar buat nonton aksi panggung dari para artis.

ambience-body5.png

Warpaint Tampil Memukau dalam Konsernya di Jakarta

Kuartet indie rock Amerika Serikat, Warpaint tampil memukau dalam konsernya di Jakarta, Jumat (17/2) malam. Penonton yang memenuhi Parkir Selatan Senayan, Jakarta, malam itu sangat terhibur oleh aksi enerjik Emily Kokal (Lead Vocal), Theresa Wayman (Guitar), Jenny Lee Lindberg (Bass), dan Stella Mozgawa (Drum).

Cuaca mendung Jakarta saat itu mendukung banget buat band yang terbentuk pada 14 Februari 2004 tersebut tampil memukau penggemarnya. Sejak pukul 5 sore Warpait Heads Up Tour Indonesia 2017 sudah dipadati oleh penonton yang duduk-duduk di kawasan Parkir Selatan. Hingga akhirnya pukul 18.00 pintu dibuka, penonton masih terlihat berdatangan dengan raut muka yang antusias.

Sebelum Warpaint tampil, ada juga band lokal yakni Trou, Diocreatura, dan Kimokal. Penampilan mereka tentunya sangat menghibur apalagi para penonton yang saat itu sudah baris di depan panggung enggak mau ketinggalan aksi Warpaint!

Jadi Panutan Soal Fashion

Emang deh gaya dari para personel Warpaint itu jadi influencer banget buat fansnya. Theresa yang pakai Ringer T gambar kepala alien dipadupadankan sama rok pendek bikin dia punya gaya sendiri. Enggak kalah keren sama Theresa, sang drummer Stella pakai pakaian yang sama saat konferensi pers, mendandakan kalau mereka itu simple soal fashion.

Jenny Lee Lindberg yang pastinya disukai sama kalangan cowok aja tapi juga cewek-cewek enggak keabisan ide buat penonton terpana! Di atas panggung, Jenny secara mengesankan pakai baju barong warna hitam gombrong. Bikin dia makin imut.

Warpaint-3

Nah kalau yang satu lagi, lead vocal dan the one and only ada Emily Kokal! Semua penonton mungkin memperhatikan caranya menyentuh dan memainkan rambutnya ikal panjang. I love the way she touch her hair!

Dari sekitar satu setengah jam Warpaint sukses memuaskan penggemarnya di Indonesia. Salah satu penggemarnya yang ikutan nonton konsernya di Jakarta, Regina Gabriela bahagia banget bisa lihat idolanya tampil secara langsung.

Dia yang baru wisuda di salah satu universitas di Bandung ini sempet-sempetin dan emang niat ikutan giveaway tiket yang diadain oleh Polka.id dan bekerjasama dengan pihak promotor Wire It Up dan akhirnya menang.

“Konsernya sangat memuaskan. Acaranya rapih, soundnya bagus. Warpaint mainnya juga flawless hampir sama kayak recording. Bener-bener surreal banget udah suka band dari lama terus nonton live. Yang tadinya cuma bisa liat stage act Jenny sama Theresa di video sekarang ngeliat mereka dancing on stage live. Oh ya soal Jenny pake baju barong emang cute banget, gue aja cewek senaksir itu. Hmm pokoknya overall a really genuinely great concert last night was!,” kata Regina.

Sejak akhir tahun 2011 Regina ngefans sama Warpaint. “Suka sama Warpaint karena warna musiknya menarik, personilnya keren-keren dan gatau kenapa sih ya.. suka aja gitu! Ahahaha,” ungkapnya.

Dari belasan lagu yang dibawain Warpaint, semua di antaranya itu sesuai apa yang diharapkan oleh fans antara lain lagu Intro lanjut Keep It Healthy di awal lagu sampai lagu di album lama Elephants, enggak lupa juga Whiteout sama New Song juga keluar! “Set list sesuai baaaaanget, tapi berharap ada lagu Composure sih. tapi sisanyaa lagu-lagu yang expected keluar semuaaa,” kata Regina.

Kunjungannya ke Indonesia ini merupakan dalam rangka tur promo album terbaru mereka, Heads Up yang dirilis pada 23 September 2016.

Heads Up merupakan album ketiga setelah dua album Warpaint yaitu Warpaint (2014), The Fool (2010), serta mini album Exquisite Corpse pada tahun 2007 yang sukses mereka rilis sebelumnya.

Warpaint yang kesemua personelnya wanita ini memiliki karakter bermusik art rock, dream pop, dan psychedelic rock.

Kedatangan Warpaint ini akan menjawab rasa penasaran fans di Indonesia yang telah menunggu sejak tujuh tahun lalu hampir datang ke Indonesia.

Uniknya, Jakarta akan menjadi destinasi pertama alias menjadi pemanasan sebelum mereka berkeliling Australia dan Jepang. Patut dibanggakan juga adalah fakta bahwa Indonesia akan jadi satu- satunya negara Asia Tenggara yang diberikan kesempatan menggelar konser Warpaint.

Warpaint terbentuk di California pada 2004. Grup ini memadukan art rock, dream pop dan pyschedelic rock. Mereka telah dibandingkan dengan Cocteau Twins, Joni Mitchell dan Siouxsie and the Banshees. Grup lain yang juga diasosiasikan dengan mereka adalah Kraftwerk, Public Image Ltd. Dan Depeche Mode.

Debut mini album Warpaint Exquisite Corpse dirilis pada 2008. Mantan gitaris Red Hot Chilli Peppers, John Frusciante mengerjakan mixing dan masternya. Gitaris RHCP yang sekarang Josh Klinghoffer mengisi drum dan gitar di EP tersebut. Tahun 2010, mereka merilis album penuh perdana The Fool yang membawa mereka dinobatkan sebagai nomine untuk BBC’s Sound of 2011, ajang penghargaan bergengsi bagi pendatang baru.

Encore yang Spesial!

Sang vokalis, Emily emang jadi bintang saat itu, apalagi saat dirinya itu selalu bilang “Terima Kasih” dan yang satu lagi yang lucu, usai ngebawain lagu Whiteout dia teriak “Bagus, bagus, bagus!”. Enggak cuma Emily, Theresa juga bilang kalau penonton Indonesia itu gemesin.

Bukan konser yang keren namanya kalau fans enggak teriak-teriak bilang “We Want More!”. Dari beberapa lagu yang sudah dimainin, Warpaint akhirnya tampil untuk main encore dan membawakan lagu So Good dan Bees.

Nontonin Warpaint manggung pokoknya enggak bakal bosen deh. Emily yang tampil enerjik dengan tarian khasnya bikin fans terhipnotis! Warpaint Heads Up Tour 2017 keren. Memuaskan! Terima kasih buat Wire It Up yang sudah datengin Warpaint! Semoga bakalan ada acara keren lagi ke depannya!

Lari Bareng Alien di Run For Education 2016

Keceriaan dan semangat untuk hidup sehat terlihat dari wajah ribuan peserta di event lari Run For Education 2016 pada Minggu (29/5) pagi di Bintaro Xchange. Acara lari sambil beramal yang diselenggarakan oleh Universitas Pembangunan Jaya berlangsung sukses.

Run For Education merupakan sebuah acara lari yang berkontribusi dalam dunia pendidikan Indonesia.

Event lari yang berlangsung di kawasan Bintaro, Tangerang Selatan ini diikuti sebanyak 2.871 peserta. Donasi yang nantinya disumbangkan kepada Yayasan Pemimpin Anak Bangsa (YPAB) sebesar Rp164.500.000.

Saga Wiratuladha selaku Ketua Acara Run For Education 2016 mengatakan bahwa “Dengan adanya Run for Education 2016, kami harapkan hal tersebut mampu menjadi salah satu pelopor kesetaraan pendidikan di Indonesia dan menjadi wadah untuk menyalurkan aksi kepedulian masyarakat terhadap dunia pendidikan,” tutupnya.

Melakukan Pemanasan dan Menyanyikan Lagu Indonesia Raya

Sebelum berlari di kategori 10K dan 5K, para peserta yang telah berkumpul sejak pagi hari melakukan pemanasan dan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Ibu Leenawaty Limantara Ph.D selaku Rektor UPJ turut hadir di pagi hari itu membuka flag off sebagai tanda lari dimulai.

Event lari Run For Education 2016 emang bener-bener keren! Tema lari mereka tahun ini “Into the Galaxy” sukses bikin para peserta lari serasa berada di luar angkasa. Habis lari muterin trek 5K dan 10K, para peserta disambut Astronot yang beraksi dengan Music DJ dan Alien yang joget-joget di atas panggung.

Run-For-Education-1-1024x683

Gimana enggak makin semangat larinya nih, habis lari, para peserta langsung masuk ke area refreshment yang terdapat air minum dan buah pisang untuk me-recharge energi. “Treknya bagus, cocok untuk mereka yang pemula. Ada dua kali tanjakan, lumayan nguras keringat. Excelent!,” kata Roosamekto Nugroho peserta lari 10K dari komunitas Ayo Lari.

Sementara itu peserta lainnya dari kategori pelajar, Hafidz bersama tiga rekannya menambahkan bahwa mereka senang bisa ikut di Run For Edu UPJ 2016. “Alhamdulillah tadi lancar, bisa finish. Banyak pohon juga jadinya adem, enak larinya,” kata Hafidz.

Olahraga lari sudah menjadi gaya hidup yang menyenangkan. Hanya bermodalkan pakaian olahraga dan sepatu lari, loe bisa melancarkan aksi di trek lari. Di event Run For Education 2016 ternyata ada yang unik nih. Karena tahun ini mengusung tema “Into the Galaxy”, lomba lari yang diadakan di Bintaro Xchange pada Minggu (29/5) lalu menghadirkan banyak peserta lari yang memakai kostum lucu.

Dari garis start udah terlihat tuh, kostum-kostum luar angkasa mulai dari makhluk planet, karakter Star Wars, Darth Vader, Yoda, Princess Leia, bahkan ada yang dari galaksi lainnya seperti Predator juga ikutan lari.

Namun, ada yang menarik perhatian nih, yaitu astronot kecil. Bersama ayahnya, Razriel yang masih duduk di kelas 5 SD bikin kostum astronot sendiri untuk dipakai lari di kategori 10K. Wah hebat juga ya lari pakai kostum astronot. “Persiapannya nggak sampe seminggu kok, ini bikin sendiri, penutup kepalanya pakai karton, jadi nggak berat,” kata ayah Razriel.

Astronot kecil cukup menarik perhatian para peserta lari. Banyak peserta lari yang ingin meminta foto bersama. Astronot kecil juga terpilih menjadi best costume, naik ke panggung bersama peserta lainnya. Hehehe.

Morrissey Live In Jakarta: Sukses Hipnotis Para Penggemar!

 

MORRISSEY_7.jpg

Morrissey kembali hadir menyapa penggemarnya di Jakarta. Legenda musik Britpop ini sukses menghipnotis penonton di konser bertajuk ‘MorrisseyJKT’ di GBK Sports Complex Senayan, Jakarta, Rabu (12/10). Konser yang diselenggarakan oleh kiosPLAY selaku promoter berlangsung meriah.

Ribuan pasang mata yang sudah memasuki area konser musik Morrissey sebelumnya disuguhi oleh Video Montage. Tepat pukul 20.00 WIB, suara riuh penonton mengiringi Morrissey naik ke atas panggung.

Meledak di Tiga Lagu Pertama
Suasana Jakarta yang sejuk selepas hujan sore hari membuat syahdu euforia konser saat itu. Tidak tanggung-tanggung, Morrissey langsung memainkan lagu pertama berjudul ‘Suedehead’.
Seketika penonton terhanyut oleh hentakan musik. Setelah lagu Suedehead, Morrissey juga langsung menyanyikan lagu populer lainnya yaitu ‘Alma Matters’ dan ‘Everyday Is Like Sunday’.

Ini merupakan konser kedua Morrissey setelah pada tahun 2012 juga sukses menyapa penggemar di Senayan. Morrissey mengaku senang bisa kembali ke Indonesia. “Saya senang sekali bisa berada di sini, Terima kasih semuanya,” katanya usai menyanyikan lagu Alma Matters.

Setelah memainkan tiga lagu “pemanasan”, Morrissey lanjut dengan beberapa lagu lainnya seperti ‘Kiss Me A Lot’, ‘Speedway’, ‘Oijaboard’, dan ‘Let Me Kiss You’.

Lemparkan Kemeja di Lagu ‘Let Me Kiss You’
Suasana semakin panas, Morrissey yang sukses menghipnotis penggemar terlihat ikut terbakar semangat. Mantan pentolan band The Smiths tersebut membuka kemeja dan melemparkannya ke arah penonton.

Benar-benar mengejutkan aksi Morrissey di konsernya di Jakarta kali ini. Tidak menyanyikan lagu sendiri, dia bahkan sempat menyanyikan lagu dari band Ramones. Lagu berjudul ‘Judy Is A Punk’ menjadi selingan yang menarik!

Benar-benar malam yang berarti. Dalam konser musiknya, Morrissey menampilkan video musik anti kekerasan terhadap manusia dan binatang. Lewat lagu ‘First Of The Gang’ dan ‘Bullfighter Dies’ Morrissey menyampaikan pesan perdamaian.

‘Meat Is Murder’ Jadi Lagu Penutup
Menutup konser musik yang kedua di Jakarta, Morrissey membawakan lagu Meat Is Murder. Tanpa encore, penonton yang berharap lebih untuk bisa berlama-lama melihat idolanya di atas panggung tidak kesampaian. Beberapa dari penonton menganggap konser Morrissey kali ini anti-klimaks.

Salah satu pengunjung wanita dari Jakarta berkata kalau dia ingin sekali Morrissey membawakan lagu ciamik lainnya seperti ‘The Light That Never Goes Out’ dan ‘The More You Ignore Me’. Namun sayang, panggilan “We Want More” dari penonton tidak menggubris Morrissey untuk kembali naik panggung.

Namun ada beberapa dari mereka yang puas. Salah satu penonton, Wahyu yang datang berdua bersama kekasihnya mengaku senang dengan konser Morrissey. Mereka yang datang dari Bandung mengaku puas dengan konser Morrissey. “Pecah suasananya! Nggak sia-sia datang Jakarta. Biar sudah ditunggu-tunggu nggak ada encore, tapi keseluruhan keren!,” katanya.

Berikut Setlist Morrissey:

Suedehead
Alma Matters
Everyday Is Like Sunday
Kiss Me A Lot
Speedway
Ouijaboard
Let Me Kiss You
World Peace Is None Of Your Business
I’m Throwing Away My Arm Around Paris
You’re The One For Me Fatty
Judy Is A Punk
Jack The Ripper
Ganglord
First Of The Gang
Bullfighter Dies
World Crashing Bores
How Soon Is Now
You Have Killed Me
Meat Is Murder

Festival Hoyak Tabuik Pariaman 2016: Tumpah Ruah di Pantai Gandoriah

Ratusan ribu masyarakat dari berbagai penjuru memadati Kota Pariaman, Sumatera Barat. Meski sempat diguyur hujan, Festival Hoyak Tabuik Pariaman 2016 yang jatuh pada hari Minggu tanggal 16 Oktober 2016 berlangsung semarak.

Cuaca mendung tidak menyurutkan warga untuk datang berbondong-bondong ke Pantai Gandoriah. Tepat pukul 16.00 WIB, dua jam jelang terbenamnya matahari, pesisir barat Sumatera menjadi saksi perhelatan tradisi yang sudah berlangsung sejak tahun 1831 ini.

Festival Tabuik 2016 memasuki puncaknya. Diarak dari lokasi berbeda, Tabuik Pasa dan Subarang diarak oleh ratusan ribu orang. Pantai Gandoriah adalah titik terakhir, lokasi dibuangnya Tabuik ke laut.

Dari sekian banyak pengunjung yang tiap tahun datang ke Festival Tabuik adalah warga asli Pariaman. Sudah menjadi agenda wajib bagi mereka untuk datang ke Pantai Gandoriah. Sekadar bersantai di tepi pantai bersama keluarga, acara yang disajikan di depan panggung, titik terakhir Tabuik berada juga menjadi hiburan yang menarik bagi mereka. Tari-tarian pembuka dan tamu undangan Walikota menyapa warga Pariaman yang saat itu hadir di sana.

IMG_6565.jpg

Benar menjadi magnet tersendiri, orang-orang yang hadir juga berasal dari wilayah Sumatera Barat, bahkan dari provinsi-provinsi di Sumatera seperti Pekanbaru, dan lainnya. Bermacam kuliner mulai dari makanan khas pesisir seperti kerang, ikan, dan makanan lainnya seperti bakso bakar, telur gulung menjadi panganan asyik menghabiskan waktu di sore hari.

Jadi Event Nasional

Rencananya, Festival Tabuik Pariaman akan menjadi event nasional. Tujuannya adalah untuk lebih mengenalkan Kota Pariaman sebagai kota pariwisata di Sumatera Barat.

Puncak perayaan Hoyak Tabuik 2016 resmi dibuka oleh Deputi Bidang Pemasaran Pariwisata Nusantara Kementrian Pariwisata RI, Esthy Reko Astuti.

“Kedepan, kami akan berusaha agar event Tabuik Pariaman ini menjadi event nasional, sehingga akan lebih banyak lagi wisatawan yang datang bak domestic maupun luar negeri sehingga Kota Pariaman akan lebih dikenal luas,” kata Esthy dalam sambutannya di hadapan ratusan ribu masyarakat di Pantai Gandoriah, Minggu (16/10) sore.

Walikota Pariaman, Mukhlis Rahman yang hadir di Puncak Festival mengatakan bahwa Event Tabuik Pariaman merupakan event yang sudah berlangsung sejak lama. Festival Tabuik akan terus dipertahankan. “Dapat kita lihat, Pantai Gandoriah dipenuhi ratusan ribu orang yang datang dari segala penjuru nusantara dan mancanegara dan momen ini akan terus kita pertahankan untuk mendukung pelestarian budaya Piaman dan juga dalam hal peningkatan jumlah wisatawan,” kata Mukhlis.

Sementara itu, tamu undangan yang turut hadir Gubernur Sumatera Barat, Irwan Prayitno mengungkapkan bahwa saat ini Kota Pariaman telah menjadi salah satu destinasi wisata yang ada di Sumatera Barat. Hal tersebut dibuktikan dari meningkatnya kunjungan turis local maupun mancanegara selama tiga tahun terakhir.

Membuang Tabuik ke Laut

Waktu terbenamnya matahari, dua Tabuik dibuang ke laut. Ratusab ribu masyarakat yang benar-benar memadati berebut mengabadikan momen besar ini. Dari segala penjuru, pinggiran pantai dipenuhi oleh orang-orang. Keberuntungan dan keberkahan diyakini menyertai mereka yang mendapatkan ornamen Tabuik yang sudah dibuang kelaut.

Festival Tabuik Pariaman

Festival Tabuik Pariaman merupakan acara tahunan yang diadakan di Kota Pariaman, Sumatera Barat. Acara ini diadakan pada awal bulan Muharram di kalender Hijriah untuk memperingati wafatnya Husein dalam Perang Karbala sekitar tahun 680 Masehi. Festival Hoyak Tabuik Pariaman dilaksanakan sejalan dengan perayaan Tahun Baru Hijriah yang dimulai pada tanggal 1 s/d 10 Muharram.

Pada saat itu, di bulan Muharram, Husein putra Ali bin Abi Thalib dipancung pasukan Yazid bin Muawiyah di Padang Karbala di Jazirah Arabia. Tabuik merupakan istilah untuk usungan jenazah yang dibawa selama proses upacara. Tabuik atau Tabut bermakna peti kayu. Tradisi yang sudah melegenda ini bermula ketika kemunculan makhluk berwujud kuda bersayap berkepala manusia yang disebut Buraq membawa jenazah Hussein terbang ke langit. Setiap tahunnya, masyarakat dan kini beserta Pemerintah Kota Pariaman selalu mengadakan Festival Tabuik.

IMG_6531

Selama penyelenggaraan, setiap harinya dilaksanakan juga prosesi ritual-ritual Tabuik di antaranya Ritual Maambiak Tanah (upacara mengambil tanah), Ritual Manabang Batang Pisang (upacara menebang batang pisang), Ritual Maatam (upacara belasungkawa), Ritual Maarak Panja (jari-jari), Ritual Maarak Saraban, Ritual Tabuik Naik Pangkek, Puncak Hoyak Tabuik, dan Ritual Pembuangan Tabuik ke Laut.

Tabuik juga lebih dikenal dengan peringatan asyura. Tidak hanya di Kota Pariaman, upacara Tabuik ini juga dilakukan di pesisir barat Sumatera antara lain Bengkulu, serta di belahan dunia lainnya seperti Turki, Iran, Pakistan, India, Karibia, dan Irak.

Festival yang bersifat tahunan ini sudah dilakukan setiap tanggal 10 Muharram sejak tahun 1831.

Tabuik Pasa dan Tabuik Subarang

Ada dua Tabuik yang diarak dari Lapangan Merdeka menuju Pantai Gandoriah. Adalah Tabuik Pasa dan Tabuik Subarang. Kedua Tabuik ini berasal dari dua wilayah yang berbeda di Kota Pariaman. Tabuik Pasa (Pasar) berasal dari wilayah yang berada di sisi selatan dari sungai menuju Pantai Gandoriah. Wilayah Pasa dianggap menjadi asal muasal tradisi Tabuik. Sementara itu Tabuik Subarang berasal dari daerah subarang (seberang), yakni wilayah di sisi utara dari sungai (Kampung Jawa).

Agenda Wisata

Kemeriahan Festival Tabuik yang selalu dibanjiri oleh masyarakat membuat acara adat ini menjadi agenda wisata. Ratusan ribu orang dari Kota Pariaman dan wilayah lainnya memenuhi Pantai Gandoriah.

IMG_6579

Sehat dan Kenal Lebih Dekat dengan Alam Bersama Komunitas Yoga Gembira

TRIBUNNEWS.COM,JAKARTA – Sebuah komunitas mengajak warga Jakarta untuk peduli kesehatan. Tak hanya itu, komunitas bernama Yoga Gembira ini juga ingin warga Jakarta dan sekitarnya dekat dengan alam sekitar.

Embusan semilir angin yang menggerakkan dedaunan, kicauan burung, dan gemericik air mancur terdengar di lokasi latihan Yoga Gembira. Sekitar 50 orang, baik itu peserta lama maupun baru, langsung bergegas mengambil tempat. Bermodalkan baju olahraga dan matras, mereka antusias mengikuti arahan seorang praktisi yoga yang berdiri di tengah.

Beberapa gerakan yoga mulai dari peregangan, menekuk tubuh, berlutut, dipraktikkan di sana. Melakukan aktivitas yoga ternyata sangat berpengaruh terhadap kebugaran fisik dan mental.

Hal itu diungkapkan peserta yang sudah sebulan aktif mengikuti kelas Yoga Gembira setiap pekan di Taman Suropati, Jakarta. Rissa namanya. Wanita karier ini merasakan perbedaan dalam tubuhnya. Lebih leluasa dalam bergerak, bernapas lebih enak, dan lebih bisa mengontrol emosi.

“Dulu saya suka marah-marah gak jelas, emosi berlebih, tapi kini setelah kurang lebih satu bulan, saya bisa mengontrol emosi. Badan juga lebih fleskibel, enak dibawa jalan,” ungkapnya.

Sementara itu, bagi peserta pemula yang baru ikut kelas bersama Yoga Gembira mengatakan ingin rutin latihan setiap pagi. Dia ketagihan dengan gerakan yang diajarkan praktisiyoga. “Memang awalnya tubuh saya kaku, sakit banget kalau ditekuk ke kanan-kiri, tapi setelahnya sudah enak, saya merasakan ketenangan, apalagi berlatih bersama di ruangan terbuka, jadi segar,” kata Neni.

Tak hanya pribadi dan kelompok yang datang. Ada juga yang membawa serta keluarganya untuk ikut berlatih yoga.Untitled

Sehat dan Kenal Lebih Dekat dengan Alam Bersama Komunitas Yoga Gembira

UntitledTRIBUNNEWS.COM,JAKARTA – Sebuah komunitas mengajak warga Jakarta untuk peduli kesehatan. Tak hanya itu, komunitas bernama Yoga Gembira ini juga ingin warga Jakarta dan sekitarnya dekat dengan alam sekitar.
Embusan semilir angin yang menggerakkan dedaunan, kicauan burung, dan gemericik air mancur terdengar di lokasi latihan Yoga Gembira. Sekitar 50 orang, baik itu peserta lama maupun baru, langsung bergegas mengambil tempat. Bermodalkan baju olahraga dan matras, mereka antusias mengikuti arahan seorang praktisi yoga yang berdiri di tengah.
Beberapa gerakan yoga mulai dari peregangan, menekuk tubuh, berlutut, dipraktikkan di sana. Melakukan aktivitas yoga ternyata sangat berpengaruh terhadap kebugaran fisik dan mental.
Hal itu diungkapkan peserta yang sudah sebulan aktif mengikuti kelas Yoga Gembira setiap pekan di Taman Suropati, Jakarta. Rissa namanya. Wanita karier ini merasakan perbedaan dalam tubuhnya. Lebih leluasa dalam bergerak, bernapas lebih enak, dan lebih bisa mengontrol emosi.
“Dulu saya suka marah-marah gak jelas, emosi berlebih, tapi kini setelah kurang lebih satu bulan, saya bisa mengontrol emosi. Badan juga lebih fleskibel, enak dibawa jalan,” ungkapnya.
Sementara itu, bagi peserta pemula yang baru ikut kelas bersama Yoga Gembira mengatakan ingin rutin latihan setiap pagi. Dia ketagihan dengan gerakan yang diajarkan praktisi yoga. “Memang awalnya tubuh saya kaku, sakit banget kalau ditekuk ke kanan-kiri, tapi setelahnya sudah enak, saya merasakan ketenangan, apalagi berlatih bersama di ruangan terbuka, jadi segar,” kata Neni.
Tak hanya pribadi dan kelompok yang datang. Ada juga yang membawa serta keluarganya untuk ikut berlatih yoga.

Inter, Lazio e Real Madrid: gemellaggio indonesiano

Un gemellaggio a tre fra tifosi di squadre europee, consumatosi però… in Indonesia: all’interno del palazzetto dello sport di un quartiere a sud di Giacarta, infatti, la delegazione dei tifosi indonesiani del Real Madrid si è unita a quelle di Inter e Lazio, per una serata a base di canti e cori assistendo al match tra nerazzurri e biancocelesti. “Noi del Real Madrid fans club Indonesia veniamo sempre invitati agli eventi organizzati dai tifosi di Inter e Lazio, per guardare insieme le partite più importanti. Anche noi facciamo lo stesso”, spiega un portavoce.